Flyer Seminar “Seni Mengatasi Konflik dan Masalah Belajar Anak Gen Z”, SMK Bina Informatika, Bintaro.

Apakah Bapak dan Ibu sering kewalahan menghadapi anak yang malas belajar, sibuk dengan gadget, dan mudah bosan di kelas? Tenang, masalah belajar anak Gen Z ternyata bukan semata soal kemalasan. Menurut para ahli, akar masalahnya justru terletak pada cara mengajar dan berkomunikasi yang belum sesuai dengan karakter generasi ini.

Hal itu mengemuka dalam seminar hybrid “Seni Mengatasi Konflik dan Masalah Belajar Anak Gen Z” yang digelar SMK Bina Informatika di Bintaro. Dua narasumber, yaitu Sinta Dewi, S.Pd., M.Kom selaku praktisi pendidikan menengah kejuruan dan Farah T. Suryawan, Dra. Psi., M.Pd selaku psikolog anak, remaja, dan keluarga, membagikan strategi praktis yang bisa langsung diterapkan orang tua maupun guru di rumah dan di kelas.

Mengapa Anak Gen Z Rentan Alami Masalah Belajar?

Generasi Z adalah anak-anak yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka tumbuh sebagai digital native sejati, akrab dengan internet cepat dan smartphone sejak kecil. Karena itu, cara belajar mereka pun berbeda jauh dari generasi sebelumnya.

Beberapa karakteristik Gen Z yang sering memicu masalah belajar antara lain sulit lepas dari gadget, rentan FOMO dan FOPO, mudah bosan, serta sangat membutuhkan validasi perasaan. Selain itu, mereka juga terbiasa dengan teknologi dan lebih rentan mengalami kecemasan sosial dibanding generasi sebelumnya.

Data dari psikolog Farah T. Suryawan bahkan menyebutkan bahwa Gen Z adalah kelompok dengan waktu layar tertinggi, yaitu rata-rata 8 hingga 9 jam per hari. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding generasi milenial yang berkisar 6 sampai 7 jam, maupun Gen Alpha yang masih dibatasi orang tua di kisaran 2 sampai 5 jam per hari.

Secara ilmiah, hal ini berkaitan dengan perkembangan otak remaja. Bagian otak pengelola emosi atau amigdala berkembang jauh lebih cepat dibanding korteks prefrontal yang mengatur logika dan pertimbangan konsekuensi. Akibatnya, anak Gen Z cenderung merasakan emosi dengan intensitas sangat tinggi, mudah mengalami mood swing, dan reaktif terhadap situasi sosial di sekitarnya.

Validasi Perasaan, Kunci yang Sering Terlewat

Menurut riset emotional invalidation atau teori biososial Linehan, anak yang terus-menerus dianggap salah atau berlebihan dalam merasakan sesuatu akan mengalami gangguan regulasi emosi. Contoh sederhana sering terjadi di rumah, misalnya ketika anak bercerita tentang masalahnya, namun orang tua hanya menjawab, “Sudah, jangan cengeng. Itu cuma masalah kecil, belajar yang rajin saja.”

Respons seperti ini membuat anak merasa tidak didengar. Ujung-ujungnya, mereka memilih dua jalan: menjadi pemarah dan mudah frustrasi, atau justru menarik diri dan menjadi sangat tertutup. Padahal, validasi perasaan sesederhana mendengarkan tanpa menghakimi sudah cukup membuka pintu komunikasi yang lebih sehat.

Kisah Nadief: Ketika Rumus Trigonometri Terasa Sia-sia

Salah satu studi kasus menarik dalam seminar ini adalah kisah Nadief, siswa jurusan Broadcast yang bercita-cita menjadi editor film. Nadief mengaku bingung mengapa ia harus menghafal sin, cos, dan tan, karena menurutnya editor film hanya mengandalkan rasa dan kreativitas.

Ternyata, jawabannya bukan menghapus materi trigonometri, melainkan mengaitkannya dengan dunia yang dikenal Nadief. Guru dapat menjelaskan bahwa grafik fungsi sinus dan cosinus sebenarnya adalah dasar dari gelombang suara (audio wave) yang setiap hari ia gunakan saat mengedit video di Adobe Premiere. Dengan begitu, materi yang tadinya terasa abstrak menjadi relevan dengan masa depan kariernya.

Kisah ini menunjukkan bahwa masalah belajar anak Gen Z sering kali bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena mereka belum melihat gunanya. Begitu materi dikaitkan dengan kehidupan nyata, motivasi belajar biasanya tumbuh dengan sendirinya.

Lima Langkah Praktis Mengatasi Masalah Belajar Anak Gen Z

Seminar ini juga merangkum lima tahap yang dapat diterapkan guru maupun orang tua untuk mengatasi masalah belajar anak Gen Z secara bertahap.

  • Bangun bonding lebih dulu. Anak Gen Z lebih mudah menerima pelajaran dari orang yang mereka percaya.
  • Jadikan belajar bermakna, bukan sekadar hafalan. Kaitkan materi dengan kehidupan nyata dan cita-cita anak.
  • Terapkan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) agar anak belajar sambil berkarya.
  • Gunakan teknologi sebagai jembatan, bukan musuh. Video pendek, kuis interaktif, dan simulasi bisa membuat belajar lebih menarik.
  • Berikan apresiasi atas usaha, bukan cuma hasil akhir. Kalimat sederhana seperti “terima kasih sudah berusaha” dapat membangun rasa percaya diri anak.

Riset dari Barnes & Noble College bahkan mengungkap bahwa 89 persen Gen Z lebih menyukai metode belajar mandiri dan berbasis praktik. Dengan kata lain, mereka membutuhkan guru sebagai fasilitator, bukan sekadar pemberi instruksi satu arah.

Empat Pola Asuh, Mana yang Bikin Anak Makin Sulit Belajar?

Menurut psikolog Farah T. Suryawan, pola asuh orang tua sangat memengaruhi bagaimana anak Gen Z menghadapi masalah belajar dan tekanan dari gadget. Ada empat pola asuh yang perlu dikenali.

  • Otoriter: orang tua mengatur secara kaku tanpa ruang berpendapat dan sering menghukum. Anak cenderung tertekan, kurang percaya diri, dan rentan mengalami masalah emosional.
  • Permisif: orang tua membebaskan anak tanpa aturan tegas. Anak menjadi kurang disiplin, kesulitan bersosialisasi, dan minim kontrol diri.
  • Penolakan atau apatis (neglectful): orang tua tidak peduli dan tidak terlibat dalam keseharian anak. Anak merasa terasing dan mencari pelarian negatif di luar rumah.
  • Otoritatif atau demokratif: orang tua membimbing dengan kasih sayang, mendengar pendapat anak, sekaligus memberi batasan yang jelas. Anak tumbuh lebih percaya diri, mandiri, dan memiliki kesehatan mental yang baik.

Pola asuh otoritatif inilah yang paling direkomendasikan untuk mengatasi masalah belajar anak Gen Z, karena menyeimbangkan kehangatan dan aturan sekaligus.

Kapan Screen Time Berubah Menjadi Kecanduan Gadget?

Tidak semua penggunaan gadget berbahaya. Namun, ada beberapa tanda yang patut diwaspadai orang tua, misalnya anak melek hingga hampir subuh tetapi tertidur di kelas, tetap bermain HP saat belajar online, sulit disuruh mandi atau makan, lebih memilih gadget daripada bermain dengan teman, serta tantrum ketika gawainya diambil.

Jika dibiarkan, kecanduan gadget dapat menurunkan kesehatan fisik, mengganggu regulasi emosi seperti mudah cemas dan marah, menurunkan fungsi kognitif seperti sulit fokus, hingga menimbulkan masalah sosial seperti menarik diri dari pergaulan. Karena itu, mengenali tanda-tanda ini sejak dini penting untuk mencegah masalah belajar anak Gen Z semakin parah.

Delapan Cara Praktis Orang Tua Mengatasi Masalah Belajar Anak Gen Z di Rumah

Selain di sekolah, peran orang tua di rumah juga sangat menentukan. Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan gabungan praktisi pendidikan dan psikolog anak.

  • Dengarkan dulu sebelum menasihati. Validasi perasaan anak agar mereka merasa dipahami.
  • Ajak diskusi, bukan sekadar memberi perintah. Biasakan berdialog, bukan monolog, di mana orang tua dan anak saling mendengarkan tanpa menghakimi.
  • Hindari membandingkan anak dengan saudara atau temannya, karena hal ini justru dapat menurunkan rasa percaya diri mereka.
  • Buat kesepakatan penggunaan gadget bersama anak, lengkap dengan konsekuensi yang jelas jika dilanggar.
  • Terapkan pengaturan gawai yang sehat, misalnya membatasi durasi harian, mematikan notifikasi non-esensial, serta membuat zona bebas gawai saat makan bersama atau menjelang tidur.
  • Jadwalkan waktu tanpa gadget (no gadget time) secara rutin di rumah, diisi board game, mengobrol santai, atau olahraga ringan bersama keluarga.
  • Ciptakan rasa aman lewat waktu berkualitas dan bahasa cinta (love language), seperti afirmasi, sentuhan fisik, pemberian hadiah kecil, dan momen ngobrol tanpa interupsi.
  • Apresiasi setiap usaha kecil yang anak lakukan, sekecil apa pun kemajuannya, dan jangan ragu meminta bantuan profesional jika masalah belajar atau kecanduan gadget sudah cukup berat.

Dengan pendekatan yang tepat, konflik seputar belajar di rumah dapat berkurang secara bertahap. Anak pun akan merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan orang tuanya sendiri.

Tentang Seminar “Seni Mengatasi Konflik dan Masalah Belajar Anak Gen Z”

Seminar hybrid ini diselenggarakan SMK Bina Informatika pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 09.00 hingga 12.15 WIB, bertempat di Jalan Cendrawasih Raya No. 9A, Sawah Baru, Ciputat, Tangerang Selatan.

Selain Sinta Dewi, S.Pd., M.Kom, seminar ini juga menghadirkan Farah T. Suryawan, Dra. Psi., M.Pd, psikolog anak, remaja, dan keluarga sekaligus Koordinator Biro Psikologi Terpadu Prime Potenzia, dengan Estu Hergamita, S.Ds sebagai moderator. Acara ini terbuka gratis bagi orang tua dan guru.

Penutup: Mendidik Bukan Sekadar Membuat Anak Pintar

Konflik belajar pada anak Gen Z bukan semata-mata karena mereka berbeda, melainkan karena dunia mereka memang telah berubah. Oleh karena itu, guru dan orang tua pun perlu terus belajar. Ketika cara mendidik berubah mengikuti zaman, cara belajar anak pun akan ikut berubah menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, tujuan mendidik bukan hanya menghasilkan anak yang pintar, tetapi juga generasi yang percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. Sebab, anak Gen Z tidak membutuhkan orang tua atau guru yang sempurna, melainkan yang mau terus belajar bersama mereka, mendengarkan, dan hadir sepenuhnya di setiap waktu berkualitas yang mereka lalui bersama.