Pada sebuah kantor perusahaan yang bergerak dibidang IT.
“Anda melamar kerja dibagian apa?”
“Saya ingin melamar kerja di divisi game design. Saya desainer game, Pak.”
“Bagaimana saya tahu kalau anda desainer game?”
“Ada tertulis di CV, Pak. Saya juga sudah pernah bikin game dan dijual lewat Google PlayStore, Pak.”
“Anda punya sertifikat kompetensi sebagai desainer game?”
“Tidak perlu, Pak. Pengalaman bagi saya lebih penting”

Itulah sepenggal dialog dari seorang kepala divisi HRD dan seorang pelamar kerja. Sertifikat menurut KBBI adalah tanda atau surat keterangan (pernyataan) tertulis atau tercetak dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan. Itulah sebabnya dahulu sertifikat hanya dibutuhkan oleh Bank sebagai jaminan kredit, tetapi semakin bertambah majunya perkembangan jaman, sertifikat bukan saja digunakan sebagai bukti pemilikan tapi berkembang menjadi bukti pengakuan.
Dalam suatu lomba jika seorang peserta ternyata tidak berhasil menjadi juara maka masih diakui pernah ikut lomba dengan menerima sertifikat sebagai peserta. Sertifikat, pasti juga mempunyai nilai lebih. Contohnya adalah kucing ras, dahulu kucing ras yang cantik bulunya hanya bernilai estetis dengan harga yang relatif proporsional. Harga kucing ras menjadi lebih mahal ketika kucing ras tersebut bersertifikat.

Bagaimana dengan sertifikat profesi? Menurut Wikipedia, sertifikat profesi adalah suatu penetapan yang diberikan oleh suatu organisasi profesional terhadap seseorang untuk menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas spesifik. Sertifikasi biasanya harus diperbaharui secara berkala, atau dapat pula hanya berlaku untuk suatu periode tertentu. Sebagai bagian dari pembaharuan sertifikasi, umumnya diterapkan bahwa seorang individu harus menunjukkan bukti pelaksanaan pendidikan berkelanjutan atau memperoleh nilai CEU (continuing education unit).

Intinya sertifikat itu adalah semacam pengakuan orang lain kepada si pemegang sertifikat. Pengalaman bertahun-tahun tak akan di akui jika belum mempunyai sertifikat. Beberapa tahun lalu terdapat kasus yang melibatkan sertifikat profesi ini, yaitu ketika para penari Indonesia yang diundang ke Eropa tetapi gagal berangkat karena mereka tidak bersertifikat. Ada pula seorang MC (Master of Ceremony) yang merasa tersinggung saat ditanya sertifikat.

Dan karena ingin diakui pula, para petinggi dunia pendidikan kejuruan merasa perlu para siswa SMK mempunyai sertifikat keahlian. Sertifikat ini akan diperoleh setelah para siswa SMK mengikuti Uji Kompetensi Keahlian (UKK) yang diselenggarakan pihak sekolah, bekerjasama dengan lembaga yang berwenang menilai kompetensi.

Kalau hanya lulus mendapatkan ijazah apa bedanya dengan SMA? Lulusan SMA dan SMK ketika masuk dalam dunia kerja sama-sama masih di level operator dan sama-sama harus mengikuti training. Jadi sebegitu pentingkah sertifikat keahlian itu bagi pemegangnya? Jawabnya tentu penting untuk mereka yang mempunyai sense of crisis, dan tidak penting untuk yang terbiasa menganut manajemen pasrah.